AKTIVITAS PEMASARAN DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PARTISIPASI PKBM DI D.I. YOGYAKARTA

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk a) mengetahui tingkatan partisipasi PKBM sebagai gambaran kuantitatif terpenuhinya kepuasan warga belajar, dan b) mengetahui variabel dominan dari aktivitas pemasaran yang mempengaruhi tingkat partisipasi pada PKBM di DIY.

Subjek penelitian adalah seluruh PKBM di DIY yang terpilih sebagai sampel penelitian. Objek penelitian berupa partisipasi dan aktivitas pemasaran yang sumber datanya adalah tahun 2005-2006. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner, wawancara dan dokumentasi data dasar PKBM, sedangkan metode analisis datanya adalah metode stepwise determinan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga (tiga) kelompok PKBM di DIY, yaitu PKBM dengan partisipasi rendah (122 PKBM), partisipasi sedang (103 PKBM, dan partisipasi tinggi (100 PKBM). Perbedaan kelompok tersebut dipengaruhi oleh aktivitas pemasaran yang berbeda-beda, yaitu secara internal yang dilakukan PKBM dengan peningkatan kualitas layanan kemudian menarik minat warga belajar untuk berpartisipasi, Dan variabel di luar manajemen PKBM yang perubahan serta kecenderungannya mempengaruhi pilihan warga belajar dalam memilih program.

Terdapat beberapa variabel yang dominasi pengaruhnya melebihi variabel lain, sesuai fungsi diskriminan yang dihasilkan, yaitu:

D1=3.727+0X1-66.947X2-1.229X5-0.090X6+0X8+0X9+0.069X11-0.96X13

D2=-4.825+0X1+20.139X2+1.020X5+0.128X6+0X8+0X9-0.124X11+0.140X13

Variabel yang dominan tersebut adalah Pasar Potensial /Market Potential (X1), Pangsa Pasar/Market Share (X2) Tren/Trend (X5), Segmentasi/Segmentation (X6), Harga/Price (X8), Promosi/Promotion (X9),Orang/People (X11) dan Bukti Fisik/Physival Evidence (X13). Diantara kedelapan variabel tersebut terdapat tiga variabel yang diluar manajemen PKBM, yaitu Pasar Potensial /Market Potential (X1), Pangsa Pasar/Market Share (X2), dan Tren/Trend (X5).

Kata Kunci: PKBM, Partisipasi, Aktivitas Pemasaran

  

  1. 1.       Pendahuluan

1.1   Latar Belakang Masalah

Rendahnya kualitas pendidikan ditengarai oleh H.A.R Tilaar (2001) salah satu penyebabnya adalah manajemen. Manajemen yang masih tradisional, statis, dan instruktif dari pusat menghambat PKBM berkembang dan bersaing leboh baok dengan pendidikan lain. Salah satu indikasi ketidaksiapan PKBM untuk berkembang dan bersaing adalah fluktuasi partisipasi PKBM dalam periode tertentu. Dari banyak PKBM yang ada di DIY, hanya sedikit yang mampu mempertahankan daya tariknya di depan warga belajar dan meningkatkan partisipasi warga belajar dari waktu ke waktu. Persaingan antar PKBM pun kondisinya tidak jauh berbeda, terdapat perbedaan sangat mencolok jumlah partisipasi PKBM satu dengan lainnya.di DIY, berdasarkan data partisipasi tahun 2005, terdapat 225 lembaga PKBM yang tersebar di seluruh kabupaten. Data tersebut menggambarkan fakta kjumlah warga belajar PKBM satu dengan klainnya memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan rentang yang sangat lebar. PKBM yang memiliki jumlah partisipasi terendah memiliki 0 warga belajar, dan PKBM yang memiliki partisipaasi tertinggi memiliki 385 warga belajar. Perbeaan partisipasi tersebut merupakan gambaran tidak meratanya pendidikan, tyidak ada kompetisi antar PKBM, tidak dimilikinya daya saing, dan penentuan program hanya berdasarkan program yang dibiayai pemerintah. Masalah-masalah tersebut secara mendasar disebabkan oleh tidak selarasnya program pendidikan yang ditawarkan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, PKBM harus memperbaiki pengelolaan lembaganya agar memiliki daya tarik lebih dan merangsang partisipasi calon warga belajar serta mampu bersaing dengan PKBM lain karena partisipasi yang maksimal dapat menjadi indikator kualitas dan kinerja PKBM dan kualitas pendidikan yang ditawarkan.

Jumlah partisipasi yang biasa menjadi istilah yang digunakan untuk menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam PKBM diasumsikan ekuivalen dengan angka penjualan pada organisasi laba, yaitu frekuensi masyarakat dalam mengkinsumsi jasa pada PKBM yang berupa program pendidikan dan pelatihan. Istilah angka penjualan merupakan istilah yang lazim digunakan dalam wacana ekonomi-pemasaran. Pendidikan dan pemasaran memiliki kesamaan karakteristik yaitu mensyaratkan pemenuhan kebutuhan warga belajar/pelanggan agar dapat membuat mereka melakukan apa yang sesuai dengan keinginan lembaga.

Perbedaan partisipasi merupakan perbedaan tingkat kepuasan warga belajar terhadap layanan pendidikan yang diberikan PKBM. Terdapat beberapa variabel yang dapat mempengaruhi partisipasi berdasarkan model perilaku pembelian Kotler dan kemudian diadaptasi Winardi dalam penerapannya dalam bidang pendidikan. Variabel-variabel tersebut adalah aktivitas pemasaran yang merupakan stimuli peningkatan partisipasi melalui pemenuhan kepuasan berupa pemenuhan harapan warga belajar dengan kualitas layanan pendidikan yang diberikan PKBM. Layanan pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan respon dari warga sasarannya berupa warga belajar mengenal, menyukai, menjadikan PKBM bersangkutas sebagai pilihan, berpartisipasi dan menjadi warga belajar yang loyal terhadap PKBM.

Penelitian mengenai variabel dominan yang mempengaruhi partisipasi ini penting dilakukan agar PKBM mengetahui posisinya diantara PKBM lain, dan PKBM juga dapat mengetahui secara tepat perlakuan apa agar dapat meningkatkan dan atau mempertahankan partisipasi yang dicapainya dengan melakukan aktivitas pemasaran. 

1.2   Perumusan Masalah

(1)    PKBM manakah yang masuk kelompok tingkat partisipasi rendah, sedang, dan tinggi?

(2)    Dari ketigabe;las variabel aktivitas pemasaran, manakah variabel yang dominan dalam mempengaruhi PKBM di D.I.Y dengan tingkat partisipasi tinggi?

1.3   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat partisipasi PKBM sebagai gambaran kuantitatif terpenuhinya kepuasan warga belajar, dan (2) mengetahui variabel dominan dari aktivitas pemasaran sebagai stimuli yang mempengaruhi tingkat partisipasi pada PKBM di D.I. Yogyakarta.

  1. 2.       Kajian Teori

2.1   PKBM

Definisi PKBM berdasarkan publikasi Depdiknas adalah suatu wadah yang menyediakan informasi dan kegiatan belajar sepanjang hayat bagi setiap warga masyarakat agar lebih berdaya. Kedudukan PKBM apabila dikaitkan dengan pendidikan formal dan informal dapat berperan : (1) sebagai komplemen, (2) sebagai suplemen, dan (3) sebagai substitusi (Djaafar, 2001: 39).  Terdapat enam (6) program yang dilaksanakan PKBm, yaitu: (1) keaksaraan Fungsional (KF), (2) Kejar Paket A, B, C (Kepak A/B/C), (3) Kelompok Belajar Usaha (KBU), (4) Beasiswa/ Magang, (5) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan (6) Kursus.

Menurut Umberto Sihombing (1999) program pendidikan PKBM tidak boleh berorientasi akademik teoretis semata, karena bukan itu yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja, yang berarti tidak selalu yang diperlukan warga belajar pila dan pada dasarnya perbedaannya menunjuk pada bahan ajar yang disajikan dan ditekuni oleh warga belajar di luar sistem persekolaha bila dibandingkan dengan nahan belajar yang di salam sistem persekolahan.

Program pendidikan yang berorientasi pasar ini diperlukan karena: (1) warga belajar adalah anggota masyarakat yang pada umumnya melakukan kegiatan belajar sambil memikirkan apa yang harus dimakan besok, dan (2) orang mau belajar karena menginginkan perbaikan hidup, karena itu yang mereka cari adalah kebiasaan untuk memulai atau memperbaiki jalan kehidupannya. Meskipun perlu diingat bahwa penyesuaian orientasi yang dilakukan tidak berarti dengan meninggalkan aspek akademiknya sama sekali\, hanya terjadi pergeseran pada bobot programnya saja.

Berdasarkan hubungan kepentingan dan partisipasinya, maka warga belajar dapat dikelompokkan menjadi warga belajar primer, sekunder, dan tersier. Warga belajar primer adalah penerima dan pengguna langsung jasa yang ditawarkan PKBM. Warga belajar sekunder adlaah pihak-pihak yang berkepentingan atas jasa PKBM, walaupun tidak menerima secara langsung. Warga belajar tersier adalah pihak-pihak yang menerima dan menggunakan jasa PKBM secara tidak langsung (Supaat, 2001: 58-59).

2.2   Penerapan Pemasaran dalam PKBM

Inti dari konsep pemasran yang melandasi pe;laksanaan PKBM adlah yang berorientasi pada warga belajar baik primer, sekunder, maupun tersier dengan cara meningkatkan kepuasan melalui penciptaan nilai bagi warga belajarnya.

Apabila memperhatikan kembali definisi terbaru pemasaran yang dilekuarkan oleh AMA (American Marketing Association) pada tahun 2004, pemasaran adlah pekerjaan lembaga yang berupa proses menciptakan, mengkomunikasikan, dan menghantarkan nilai kepada pelanggan (warga be;ajar) dan untuk pengelola hubungannya dengan pelanggan yang memberikan keuntungan baghi organisasi dan stakeholdernya.

Definisi tersebut mengandung arti Pertama, menempatkan tanggungjawab pemasaran pada level lembaga, bukan individu atau departemen, menegaskan fungsinya sebagai inti, dan sebagai bagian dari cara pandang lembaga. Kedua, menekankan pada integrasi. Sebgaimana para praktisi, pengertian pemasaran terintegrasi lebih penting dan berguna daripada sekedar integrasi dan pemasaran yang diintegrasikan. Ketiga, menegaskan bahwa pemasaran adalah mengenai menciptakan, mengkomunikasikan, serta menghantar nilai dan bukan hanya mengkomunikasikan (promosi).

Pemasaran sesuai dengan perkembangan terbarunya harus diartikan sebagai sebuah cara berfikir tentang bagaimana berurusan dengan warga belajar. Pemasaran bukanlah sebagi departemen/bagian, melainkan sebuah keadaan pikiran, sebuah budaya yang meresap dalam sebuah lembaga yang sukses. Saat ini, pemasaran memiliki arti bahwa lembaga-lembaga harus sungguh-sungguh mengerti apa yang diperlukan untuk menciptakan kepuasan warga belajar. Hal ini berarti bahwa manajemen dalam PKBM yang berorientasi pemasaran harus mengajarkan pada seluruh pengelola/staff maupun tutor/p[among belajar mereka untuk menampilkan wajahyang konsisten pada warga belajar dengan menunjukkan kepedulian PKBM terhadap pemenuhan kebutuhan warga belajar.

Akan tetapi perlu disadari bahwa selalu ada kebutuhan untuk memformalkan fungsi pemasaran. Pemasaran tetap perlu masuk dalam struktur PKBM dengan mengacu pada pemahaman bahwa ada hal yang lebih penting, ada kebutuhan yang terus menerus di banyak organisasi untuk memastikan bahwa pandangan pemasaran tentang dunia merasuk dalam keseluruhan organisasi.

2.3   Hubungan Aktivitas Pemasaran dengan Tingkat Partisipasi

Kotler (1995: 230-231) mengembangkan model perilaku pembelian komsumen yang tersusun atas rangsangan dari luar (stimuli internal pemasaran dan stimuli lai), lotak hitam pembeli (karakteristik pembeli dan proses keputusan pembelian), dan keputusan pembeli. Model yang dikembangkan oleh Kotler tersebut diadaptasikan oleh Winardi (Alma, 2003:122-123) untuk  bidang pendidikan dan mengembangkan modelnya jadi:

Lingkungan bauran pemasaran yang kemudian disebut aktivitas pemasaran ini pada dasarnya terdiri dari dua (2) bentuk, yaitu stimuli i ternal dan stimuli eksternal. Stimuli internal dalam penelitian ini maksudnya adalah kon sep bauran pemasaran. Istilah “bauran pemasaran” mengacu pada rentangan variabel yang terlibat dalam pencapaian tujuan pemasaran. Bauran pemasaran didefinisikan sebagai peropaduan berbagai variabel yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan dari keseluruhan operasi pemasaran.

Aktivitas sebagai input dalam model ini adalah stimuli berupa motivasi yang mendorong calon warga belajar yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan ditambah strategi 7P yang dilakukan manajemen PKBM tersebut kemudian diproses dalam kotak hitam dan keluar menjadi output. Output berupa alumni atau warga belajar sekunder lwmbaga pendidikan yang merasa puasdengan proses pendidikan yang sudah dialaminya yng kemudian mempengaruhi orang disekitarnya termasuk keluarga, tetangga, teman, dll sehingga pada akhirnya akan meningkatkan jumlah pendaftar calon balejar waerga belajar berikutnya.

Kepuasan merupakan output antara dari model. Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang warga belajar seringkali melihat nilai (value added) produk maupun kinerja pelayanan yang diterima suatu proses pembelian terhadap jasa PKBM dibanding dengan PKBM lain. Besarnya nilai yang diberikan oleh sebuah PKBM kepada warga belajar tersebut merupakan suatu jawaban dari poertanyaan yang timbul tentang mengapa seorang warga belajar melakukan pilihannya.

2.4   Aktivitas Pemasaran

Aktivitas pemasaran menurut Maholtra (2000: 9) dibagi atas dua kelompok, yaitu problem identifikation variables dan problem solving variables dimana kedua kelompom tersebut sama pentingnya. Problem identification research sebagai alat ukur stimuli eksternal yang masih dapat dikendalikan dengan cara diidentifikasikan. Variabel-variabel tersebut adalah:

Pasar potensial (Potential Market) adalah batas yang dapat dicapai oleh permintaan pasar saat pengeluaran pemasaran yang dilakukan industri (industri diartikan sebagai lembaga-lembaga yang sejenis) mendekati tidak terbatas di dalam lingkungan tertentu (Kotler&AB. Susanto, 2000: 326)

Pangsa Pasar (Market Share) suatu proporsi atau perbandingan antara industri keseluruhan (total) yang dibuiat suatu organisasi dalam suatu industri (Husein Umar, 2003: 220).

Citra (Image) menurut Chernatony&Riley (1998) adalah ‘mata rantai’ antara aktivitas pemasaran organisasi dan persepsi konsumen terhadap unsur-unsur fungsional dan emosional dalam pengalam,an mereka dengan suatu produk dan cara produk tersebut dipresentasikan kapada mereka (Tjiptono, 2005: 99).

Peramalan (Forecasting) adalah tingkat penjualan organisasi yang diharapkan berdasarkan rencana pemasaran yang dipilih dan lingkungan pemasaran yang diasumsikan lebih jelas didefinisikan sebagai seni mengantisipasi apa yang mungkin dilkukan pembeli dalam kondisi-kondisi tertentu (Kotler&AB. Susanto, 2000: 327)

Tren (trend) adalah rata-rata perubahan (biasanya tiap tahun) dalam jangka panjang.  Jika hal yang diteliti menunjukkan gejala kenaikan, maka tren yang akan kita miliki menunjukkan pertambahan, dan sering disebut tren positif, tetapi kalao yang kita miliki menunjukkan rata-rata penurunan, maka tren yang kita miliki menunjukkan pengutangan atau tren negatif (Pangestu Subagyo, 2002: 32)

Problem solving research atau pengukuran untuk memecahkan masalah pemasaran yang berada dalam kendali manajemen> diawali dengan membuat profil pelanggan dan membaginya kedalam kelompok :

Segmentasi (segmentation) merupakan bagian dari konsep STP (segmenting, targetting, positioning) yang merupakan tahapan langkah pokok pada pemasaran sasaran yang terbukti dapat membantu lembaga mengidentifikasi peluang pasar dengan cara yang lebih baik (Kotler&Adreasen, 1995:152).

Produk (product) menurut Mc Carthy adalah suatu tawaran dari organisasi yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan (Simamora, 2001: 139).

Harga (Price) adlaah sejumlah uang (satuan moneter) dan atau aspek lain (nono moneter) yang mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapat suatu jasa (Tjiptono, 2005:178)

Promosi (promotion) bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antar organisasi dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen (Kotler, 1996: 242).

Tempat (Place) lembaga-lembaga yang terkait satu sama lain dan terlibat dalam penyaluran jasa sejak dari produsen sampai ke konsumen (Simamora, 2001: 234)

Orang (people) adalah yang terlibat dalam penyampaian jasa sehingga mempengaruhi persepso konsuman (Alma, 2001: 117)

Proses (process) merupakan gabungan  semua aktivitas, umumnya terdiri dari prosedur, jadwal, pekerjaan, mekanisme, dan hal-hal rutin dimana jasa dihasilkan dan disampaikan kepada konsumen (Lupiyoadi, 2001: 63-64)

Bukti fisik (physical evidence) adalah sarana fisik, lingkungan terjadinya penyampaian jasa, antara penyedia jasa dan konsumen berinteraksi dan setiap komponen lainnya yang memfasilitasi penampilan yang ditawarkan (Zeithaml&Bitner, 2000).

2.5   Kepuasan

Dalam menentukan nilai kepuasan, warga belajar seringkali melihat value added atau nilai tambah jasa pendidikan maupun kinerja pelayanan yang diterima dari suatu proses pembelian terhadap jasa pendidikan yang ditawarkan suatu PKBM dibanding pendidikan di PKBM lain. Pencarian nilai oleh warga belajar tersebut melahirkan teori customer delivered value, yaitu besarnya selisih nilai yang diberikan oleh warga belajar terhadap jasa pendidikan yang ditawarkan padanya (customer value) dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh warga belajar untuk memperoleh jasa tersebut (customer cost). Oleh karena itu PKBM perlu memberikan jaminan kepuasan bahkan melebihi harapan warga belajarnya dengan cara memenuhi ketujuh elemen kepuasan pelanggan.

Ketujuh elemen tersebut menurut Tjiptono (2005: 345-355) adalah:

(1)    Barang dan jasa berkualitas, PKBM harus memiliki program yang berkualitas, prima, dan bersaing, (2) Pemasaran hubungan (relationship marketing), sebagai upaya menjalin hubungan jangka panjang dengan warga belajar, (3) Program promosi loyalitas, dengan cara memberikan penghargaan pada warga belajar yang berpartisipasi dan berprestasi tinggi, (4) Fokus pada pelanggan terbaik, yaitui tidak mebgabaiokan warga belajar yang sudah lama berpartisipasi dan berprestasi hanya karena ingin menambah warga belajar yang baru, (5)siatem menangani penanganan komplain secara efektif, (6) Janji eksplisit, yang meripakan janji eksplisit pada warga belajar mengenai tingkat kinerja yang dapat diharapkan akan diterima, dan (7) Program pay-for performance, dimana para tutor dan staff yang merupakan ujung tombak PKBM harus dipuaskan kebutuhannya agar dalam melayani warga belajar juga dapat optimal hasilnya.

2.6   Partisipasi

Yang dijadikan output akhir dari model keputusan pembelian pada pendidikan adlah volume penjualan. Pada pendidikan, istilah yang dipakai untuk mengukur keterlibatan masyarakat dalam proses belajar mengajarnya lazim disebut partisipasi. Partisipasi warga belajar (customer participation) mengacu pada tingkat usaha keterlibatan warga belajar baik mental maupun fisik, yang dibutuhkan dalam rangka menyampaikan pelayanan pendidikan. Dalam penelitian ini, meskipun partisi[pasi diasumsikan ekuivalen dengan penjualan dalam bidang ekonomi pemasaran, namun yang dimaksud bukanlah jumlah volume keikutsertaan warga belajar dalam PKBM melainkan frekuensi warga belajar dalam mengkonsumsi jasa/berpartisipasi pada PKBM yang beripa program pendidiikan dan pelatihan.

Indikator pendidikan terdiri dari (1) indikator pemerataan, dengan variabel partisipasi yang menunjukkan kinerja, (2) indikator peningkatan mutu, dan (3) indikator efisiensi internal. Dalam indikator pemerataan, terdapat berbagai perhitungan angka partisipasi, diantaranya (1) angka Partisipasi Murni (APM), (2) Angka Partisipasi Kasar (APK), (3) Angka Melanjutkan (APM), (4) Angka Mengulang (AU), dan (5) Angka Putus Sekolah (APS).

Barbagai perhitungan partisipasi tersebut meripakan pengukuran yang lazim digunakan dalam pendidikan formal. Perkembangan OKBM yang bekum setara dengan pendiidkan sekolah secara umum mengharuskan pembahasan partisipasi dilakukan secara khusus. Partisipasi PKBM belum dapat dihitung dengan cara yang sama seperti pendidikan sekolah dan miskinnya dta sejarah, perbedaan jenjang pendidikan dan waktu tempuhnyalah yang amenjadi penyebabnya..

Sebagai Langkah awal maka partisipasi PKBM akan dikelompokkan menjadi tiga (3) strata PKBM, yaitu strata partisipasi rendah, sedang, dan tinggi. Penentuan strata kelompok ini disesuaikan dngan standar UNDP. Pengelompokkan strata/klasifikasi tersebut akan bermanfaat untuk melihat spesifikasi kondisi pendidikan Kabupaten/Kota sehingga permasalahan pada tingkat Kabupaten/Kota didekati dengan kebijakan yang berbeda pula. Salah satu yang melandasi klasifikasi pendidikan Kabupaten/Kota menurut standar yang digunakan UNDP adalah variabel indeks pendidikan menurut klasifikasi. Klasifikasi yang digunakan melipiti klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah (Pikiran Rakyat, 11 September 2002)

  1. 3.       Metode Penelitian

Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat ex-post facto yaitu penelitian yang hanya mengungkap gejala-gejala yang telah ada (telah terjadi) tanpa memberiakn perlakuan atau manipulasi terhadap variabel-variabel yang diteliti. Penelitian ini ditentukan 13 variabel bebas dan 1 variabel terikat. Pasar Potensial /Market Potential (X1), Pangsa Pasar/Market Share (X2), Peramalan/Forecasting (X3), Citra/Image (X4), Tren/Trend (X5), Segmentasi/Segmentation (X6), Produk/Product (X7), Harga/Price (X8), Promosi/Promotion (X9), Tempat/Place (X10), Orang/People (X11), Proses/Process (X12) dan Bukti Fisik/Physival Evidence (X13), sedangkan Partisipasi (Y) sebagai variabel terikat. 

Populasi penelitian ini adalah seluruh PKBM yang ada di D.I. Yogyakarta yang pada tahun 2005 berjumlah 225, dengan jumlah warga belajar 46197 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik stratified random sampling, yaitu dengan dibagi dalam strata tertentu. Strata yang dikelompokkan dalam penelirian ini adalah PKBM dengan strata partisipasi tinggi, partisipasi sedang dan partisipasi rendah. Data yang digunakan oleh penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer didapat dengan menggunakan kuesioner dan wawancara, sedangkan data sekunder didapat melalui data dokumentasi yang tersedia.

Teknik analisis datanya menggunakan analisis diskriminan berganda dengan melakukan langka-langkah analisis sebagai berikut: 1. Merumuskan masalah diskriminan, membuat estimasifusngsi diskriminan, 3. Memastikan signifikansi determinan, 4. Menginterpretasi hasil, dan menguji signifikansi analisis diskriminan.

  1. 4.       Hasil Penelitian

PKBM yang digunakan sebagai sampel adalah PKBM yang mewakili strata partisipasi rendah sedang, dan tinggi. Terdapat 325 sampel dalam penelitian ini, yaitu 122 pada strata rendah, 103 pada strata sedang, dan 100 pada strata tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa variabel yang dominasi pengaruhnya melebihi variabel lain, sesuai fungsi diskriminan yang dihasilkan, yaitu:

D1=3.727+0X1-66.947X2-1.229X5-0.090X6+0X8+0X9+0.069X11-0.96X13

D2=-4.825+0X1+20.139X2+1.020X5+0.128X6+0X8+0X9-0.124X11+0.140X13

Variabel yang dominan tersebut adalah Pasar Potensial /Market Potential (X1), Pangsa Pasar/Market Share (X2) Tren/Trend (X5), Segmentasi/Segmentation (X6), Harga/Price (X8), Promosi/Promotion (X9),Orang/People (X11) dan Bukti Fisik/Physival Evidence (X13). Diantara kedelapan variabel tersebut terdapat tiga variabel yang diluar manajemen PKBM, yaitu Pasar Potensial /Market Potential (X1), Pangsa Pasar/Market Share (X2), dan Tren/Trend (X5). Dimana hal ini juga berarti penolakan terhadap hipotesis nol.

  1. 5.       Simpulan dan Saran
  2. A.      Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah diumumkan dimuka, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1)      Setiap variabel dari aktivitas pemasaran mempengaruhi tingkat parisipasi dengan cara yang berbeda-beda. Ada variabel yang secara internal dilakukan oleh PKBM dengan peningkatan kualitas layanan kemudian menarik minat warga belajar untuk berpartisipasi, selain itu karena PKBM merupakan bagian dari PKBM Provinsi, ada juga varioabel di luar PKBM yang perubahan serta kecenderungannya mempengaruhi pilihan program warga belajar dalam memilih program.

2)      Dari tigabelas variabel yang secara teoretik mempengaruhi tingkat partisipasi pendidikan khususnya {KBM di D.I. Yogyakarta, terdapat beberapa variabel yang dominasi pengaruhnya melebihi variabel lain. Variabel tersebut adalah Pasar Potensial/Market Share, Pangsa Pasar/Market Share, Tren/Trend, Segmentasi /Segmentation, Harga/Price, Promosi/Promotion, Orang/People dan Bukti Fisik/Physical Evidence. Diantara delapan variabel tersebut terdapat tiga (3) variabel yang di luar manajemen, yaitu Pasar Potensial/Market Share, Pangsa Pasar/Market Share dan Tren/Trend.     

  1. B.      Saran

Berdasarkan penelitian ini, maka saran bagi PKBM untuk dapat meningkatkan daya tariknya di depan sasaran program adalah melalui peningkatan kualitas Secara independen dengan mengacu pada kebijakan pemerintah yang sudah teruji secara ilmiah dan mengadaptasinya sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, dalam melakukan evaluasi, PKBM dapat mengginakan strata partisipasi PKBM pada penelitian ini sebagai barometer peningkatan atau penurunan partisipasi. Dan dalam usaha peningkatan partisipasi, PKBM juga dapat mempraktekkan variabel-variabel dominan yang mempengaruhi tingkat partisipasi dengan cara yang khas PKBM.

DAFTAR PUSTAKA

Bilson Simamora (2001). Memenangkan Pasar: Dengan Pemasaran Efektif dan Profitable. Jakarta:

PT. Gramedia Pustaka Utama

Bukhori Alma (2001). Pemasaran Strategis Jasa Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Fandy Tjiptono (2005). Pemasaran Jasa. Malang: Bayumedia Publishing

H.A.R. Tilaar (2001). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Husein Umar (2003). Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Pangestu Subagyo (2002). Forecasting: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta

Kotler, Philip (1999). Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan

Pengendalian. Jilid I dan II. Surabaya: Erlangga

Kotler, Philip&AB. Susanto (2000). Manajemen Pemasaran di Indonesia, Analisis Perencanaan,

Implementasi dan Pengendalian. Buku I dan II. Jakarta: Salemba Empat, Pearson Education Asia Pte. Ltd.

Rambat Lupiyoadi (2001). Manajemen Pemasaran Jasa: Teori dan Pratik. Jakarta: Salemba Empat.

Umberto Sihombing (1999). Pendidikan Luar Sekolah, Kini dan Masa Depan. Jakarta: PD. Mahkota.

About these ads

3 Komentar »

  1. UP jakarta Said:

    keren artikelnya

    • detynudiyati Said:

      makasih…ini skripsi saya..jadi memang hasil penelitian…:d

  2. UP jakarta Said:

    bagus banget artikelnya


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: